Selasa, 04 Oktober 2011

PENGANTAR TELEMATIKA

Tugas kuliah
Mata kuliah Sistem Penunjang Keputusan
Kasus pertanyaan no 5
5. bagaimana sistem kecerdasan tiruan ,seperti sistem pakar dan jaringan saraf tiruan dapat diintegrasikan kedalam ABB DSS?
Jawab :
Sebelum membahas lebih lanjut bagaimana kecerdasan tiruan dapat dihubungankan kedalam ABB DSS adalah bahwa kita harus mampu memahami apa itu kecerdasaan tiruan yang akan diuraikan sebagai berikut :
Artificial Intelligent (AI) adalah ilmu pengetahuan yang bergerak dalam pembuatan mesin yang cerdas. (sumber: John McCarthy). Mesin yang cerdas dapat diartikan sebagai mesin yang dapat melakukan hal-hal tertentu, yang memerlukan kecerdasan apabila dilakukan oleh manusia.
Kecerdasan Buatan (bahasa Inggris: Artificial Intelligence atau AI) didefinisikan sebagai kecerdasan yang ditunjukkan oleh suatu entitas buatan. Sistem seperti ini umumnya dianggap komputer. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin (komputer) agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia. Beberapa macam bidang yang menggunakan kecerdasan buatan antara lain sistem pakar, permainan komputer (games), logika fuzzy, jaringan syaraf tiruan dan robotika.
Walaupun AI memiliki konotasi fiksi ilmiah yang kuat, AI membentuk cabang yang sangat penting pada ilmu komputer, berhubungan dengan perilaku, pembelajaran dan adaptasi yang cerdas dalam sebuah mesin. Penelitian dalam AI menyangkut pembuatan mesin untuk mengotomatisasikan tugas-tugas yang membutuhkan perilaku cerdas. Termasuk contohnya adalah pengendalian, perencanaan dan penjadwalan, kemampuan untuk menjawab diagnosa dan pertanyaan pelanggan, serta pengenalan tulisan tangan, suara dan wajah. Hal-hal seperti itu telah menjadi disiplin ilmu tersendiri, yang memusatkan perhatian pada penyediaan solusi masalah kehidupan yang nyata. Sistem AI sekarang ini sering digunakan dalam bidang ekonomi, obat-obatan, teknik dan militer, seperti yang telah dibangun dalam beberapa aplikasi perangkat lunak komputer rumah dan video game
Lalu selanjutnya adalah Istilah dari decision support system telah digunakan dengan banyak cara (Alter 1980) dan menerima banyak definisi yang berbeda menurut pandangan dari sang penulis (Druzdzel dan Flynn 1999). Finlay (1994) dan lainnya mendefiniskan DSS kurang lebih sebagai sebuah sistem berbasis komputer yang membantu dalam proses pengambilan keputusan.
Turban (1995) mendefinisikan secara lebih spesifik dengan, sesuatu yang interaktif,flexible dan dapat menyesuaikan diri(adaptable) dari sistem informasi berdasarkan komputer, khususnya pengembangan untuk mendukung pemecahan masalah dari non-struktur management, untuk meningkatkan pengambilan keputusan. Dengan menggunakan data, mendukung antar muka yang mudah digunakan dan memberikan wawasan untuk sang pengambil keputusan.
 Dan Hubungan antara DSS dengan Data Warehouse
Setelah kita lihat dan selami tentang data warehouse, kita dapat menyimpulkan bahwa data warehouse adalah sebuah model database yang berguna untuk menyimpan dan memproses data dengan pendekatan kepada kegunaan data dalam pengambilan keputusan bagi EIS atau DSS.
Sebuah DSS (tergantung dengan yang disupport-nya)membutuhkan data warehouse agar dapat menjalankan kerjanya dengan baik. Dan memang data warehouse sendiri dibangun untuk memenuhi kebutuhan DSS
 Contoh Data Warehouse Yang Ada
Contoh dari data warehouse yang digunakan bersamaan dengan DSS, misalkan saja pegawai peminjaman bank memverikasi data peminta pinjaman atau suatu perusahaan engineer melakukan tawar menawar dalam beberapa project dan ingin tahu jika dia bisa kompetitive dalam harga terhadap para pesaingnya.
Contoh yang lain masih lebih banyak lagi, yang kesemuanya membutuhkan kecepatan dalam pengambilan keputusan dan kemudahan dalam penggunaannya.
 DECISION SUPPORT SYSTEM

Salah satu jenis sistem aplikasi yang sangat popular di kalangan manajemen perusahaan adalah Decision Support System atau disingkat DSS. DSS ni merupakan suatu sistem informasi yang diharapkan dapat membantu manajemen dalam proses pengambilan keputusan. Hal yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa keberadaan DSS bukan untuk menggantikan tugas-tugas manajer, tetapi untuk menjadi sarana penunjang (tools) bagi mereka. Sprague dan Carlson mendefinisikan DSS dengan cukup baik, sebagai sistem yang memiliki lima karakteristik utama (Sprague et.al., 1993):

1) Sistem yang berbasis komputer;
2) Dipergunakan untuk membantu para pengambil keputusan;
3) Untuk memecahkan masalah-masalah rumit yang “mustahil” dilakukan dengan kalkulasi manual;
4) Melalui cara simulasi yang interaktif;
5) Dimana data dan model analisis sebagai komponen utama.
Karakteristik 4 dan 5 merupakan fasilitas baru yang ditawarkan oleh DSS belakangan ini sesuai dengan perkembangan terakhir kemajuan perangkat komputer.

 KOMPONEN DECISION SUPPORT SYSTEM

Secara garis besar DSS dibangun oleh tiga komponen besar:
1) Database
2) Model Base
3) Software System

Sistem database berisi kumpulan dari semua data bisnis yang dimiliki perusahaan, baik yang berasal dari transaksi sehari-hari, maupun data dasar (master file). Untuk keperluan DSS, diperlukan data yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan melalui simulasi.

Komponen kedua adalah Model Base atau suatu model yang merepresentasikan permasalahan ke dalam format kuantitatif (model matematika sebagai contohnya) sebagai dasar simulasi atau pengambilan keputusan, termasuk di dalamnya tujuan dari permasalahan (obyektif), komponen-komponen terkait, batasan-batasan yang ada (constraints), dan hal-hal terkait lainnya.

Kedua komponen tersebut untuk selanjutnya disatukan dalam komponen ketiga (software system), setelah sebelumnya direpresentasikan dalam bentuk model yang “dimengerti”komputer .Contohnya adalah;

Penggunaan teknik RDBMS (Relational Database Management System), OODBMS (Object Oriented Database Management System) untuk . Entiti lain yang terdapat pada produk DSS baru adalah DGMS (Dialog Generation and Management System), yang merupakan suatu sistem untuk memungkinkan terjadinya “dialog” interaktif antara komputer dan manusia (user) sebagai pengambil keputusan.

 JENIS-JENIS DSS

Aplikasi DSS yang ditawarkan di pasar sangat beraneka ragam, dari yang paling sederhana (quick-hit DSS) sampai dengan yang sangat kompleks (institutional DSS). “Quick-Hit DSS” biasanya ditujukan untuk para manajer yang baru belajar menggunakan DSS (sebagai pengembangan setelah jenis pelaporan yang disediakan oleh MIS = Management Information System, satu level sistem di bawah DSS). Biasanya masalah yang dihadapi cukup sederhana (simple) dan dibutuhkan dengan segera penyelesaiannya. Misalnya untuk kebutuhan pelaporan (report) atau pencarian informasi (query). Sistem yang sama biasa pula dipergunakan untuk melakukan analisa sederhana. Misalnya adalah DSS untuk menyusun anggaran tahunan, DSS untuk melakukan kenaikan gaji karyawan, DSS untuk menentukan besanya jam lembur karyawan, dan lain sebagainya.

Contohnya adalah DSS untuk memprediksi pendapatan perusahaan di masa mendatang (forecasting) yang akan mensimulasikan data yang berasal dari Divisi Sales, Divisi Marketing, Divisi Logistik dan Divisi Operasional. Contoh implementasi yang tidak kalah menariknya adalah suatu sistem, dimana jika manajemen memiliki rencana untuk mem-PHK-kan beberapa karyawannya, akan dapat disimulasikan dampaknya terhadap neraca profit-and-loss perusahaan. Contoh aplikasi penggunaan DSS lain yang paling banyak digunakan di dalam dunia bisnis adalah untuk keperluan analisa marketing, operasi logistik dan distribusi, serta masalah-masalah yang berkaitan dengan keuangan dan akuntansi (taxation, budgeting, dsb.).




 KESIMPULAN
Jadi dari kesimpulan kasus diatas sistem pakar dan jaringan saraf tiruan dapat siintegrasikan ke dalam ABB DSS harus mempunyai 3 komponen
Diantaranya:
1) Database . yang dimaksud adalah sebagai warehousenya
2) Model Base . yang dimaksud adalah sebagai model yang merepresentasikan permasalahan ke dalam format kuantitatif (model matematika sebagai contohnya)
3) Software System .yang dimaksud adalah sofware yang mampu dipahami oleh komputer dan user seperti hasil dari sistem kecerdasan manusia

lirik lagu (When you tell me that you love me)

I wanna call the stars
Down from the sky
I wanna live a day
That never dies
I wanna change the world
Only for you
All the impossible
I wanna do

I wanna hold you close
Under the rain
I wanna kiss your smile
And feel the pain
I know what's beautiful
Looking at you
In a world of lies
You are the truth

And baby
Everytime you touch me
I become a hero
I'll make you safe
No matter where you are
And bring you
Everything you ask for
Nothing is above me
I'm shining like a candle in the dark
When you tell me that you love me

I wanna make you see
Just what I was
Show you the loneliness
And what it does
You walked into my life
To stop my tears
Everything's easy now
I have you here

And baby
Everytime you touch me
I become a hero
I'll make you safe
No matter where you are
And bring you
Everything you ask for
Nothing is above me
I'm shining like a candle in the dark
When you tell me that you love me

In a world without you
I would always hunger
All I need is your love to make me stronger

And baby
Everytime you touch me
I become a hero
I'll make you safe
No matter where you are
And bring you
Everything you ask for
Nothing is above me
I'm shining like a candle in the dark
When you tell me that you love me

You love me
When you tell me that you love me

Sabtu, 06 Agustus 2011

Cara Instalasi Pro Evolution Soccer 2011 by abas nurrahman

Cara Instalasi Pro Evolution Soccer 2011

Resensi oleh:Doedo
Anda harus membeli Pro Evolution Soccer 2011 DVD

Setelah Anda membelinya, ikuti petunjuk ini:

1. Masukkan DVD ke DVD Drive.

2. Tunggu sampai autorun membaca DVD.

3. Kemudian, proses itu dimulai.

4. Setelah proses ini selesai, PES 2011 kotak akan muncul dan Anda harus klik install.

5. Setelah itu, installer akan menginstal PES 2011 ke dalam drive anda (contoh: C: \ Program Files \ Konami \ PES 2011)

6. Setelah itu wil installer; menyelesaikan proses.

7. Salin “PES 2011″ dan “rld.dll” dalam folder crack yang dapat Anda temukan di direktori 2011 PES setelah Anda dapatkan dari DVD (contoh: E: \ Installer \ PES 2011 \ Crack)

8. Kemudian, bermain dan menikmati GAME:)

Cara Instalasi Pro Evolution Soccer 2011 Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/how-to/computers-and-internet/2120637-cara-instalasi-pro-evolution-soccer/
atau ada 2 alternatif yaitu
. Alternatif Pertama

Alternatif ini mungkin adalah cara paling mudah mengingat kita tidak perlu mengekstrak file terlebih dahulu. Versi CD ini saya temukan di kawasan Bali. Versi CD ini mungkin yang paling cocok bagi pemula yang belum terlalu paham betul tentang komputer. Coba lihat gambar disamping! Berdasarkan gambar di samping sangat jelas bahwa kita tidak perlu mengekstrak tetapi kita hanya perlu menjalankan installer seperti game pada umumnya. Yang membingungkan paling hanya bahasanya. Tetapi kita tidak perlu bingung karena kita cuma harus menekan tombol yang berpanah . Sesudah itu tunggu sampai selesai dan game bisa langsung dimainkan.

2. Alternatif Kedua

Ini yang mungkin cara yang sedikit rumit bagi pemula. Karena harus mengekstrak terlebih dahulu. Sebenarnya cara ini tidak rumit tetapi masih ada orang yang bingung. Pertama kita install Daemon tools sebagai persiapan. Jika sudah ada tidak perlu diinstal. kemudian kita jalankan file ekstrak dan tentukan folder tempat file yang diekstrak. Jika sudah jalankan dan tunggu sampai ekstrak selesai.

Setelah selesai kita harus mulai memakai Daemon Tools. Coba lihat gambar di samping. Sesuai gambar kita harus melakukan proses mounting . Caranya gampang klik kanan ikon taskbar daemon tools klik virtual drive lalu klik mount image dan cari file hasil ekstrak tadi.




Nah sesudah itu autorun akan muncul lau klik instal.Tunggu sampai selesai . Setelah selesai Copy Crack ( Jika ada ) pada folder PES 2011 Yang telah ditentukan saat instalasi tadi. Contoh C:\Program Files\KONAMI\Pro Evolution Soccer 2011. Setelah Copy reboot lalu mainkan. SELESAI DECH!

Itulah dua cara yang saya ketahui dalam menginstall PES 2011. SEMOGA BERMANFAAT DAN SELAMAT MENCOBA

Selasa, 31 Mei 2011

CONTOH CV MATA KULIAH BAHASA INDONESIA 2

CONTOH CV BAHASA INDONESIA
Contoh-contoh
Daftar Riwayat Hidup
atau Resume atau Curriculum Vitae (CV) dalam Bahasa Indonesia

Di bawah ini diberikan 12 contoh Daftar Riwayat Hidup (CV) dalam Bahasa Indonesia, yang mewakili berbagai kondisi dan situasi dari pelamar maupun penerima kerja.
Semoga 12 contoh CV ini dapat membantu anda.

Contoh ke 1.
Daftar Riwayat Hidup


Data Pribadi
Nama : Abas Nurrahman
Jenis kelamin : laki laki
Tempat, tanggal lahir : jakarta, 12 Februari 1991
Kewarganegaraan : Indonesia
Status perkawinan : Lajang
Tinggi, berat badan : 170 cm, 53 kg
Kesehatan : Sangat Baik
Agama : Islam
Alamat lengkap : Jl.dalang No 22 RT05/05 kec.cipayung kel Munjul Jakarta Timur Kode pos 13850
Telepon, HP : 08999787041
E-mail : abas08@gunadarma.ac.id

Pendidikan
» Formal

1996 - 2002: SD Munjul 01 Pagi
2002 - 2005 : SMP Pondok Pesantren Daaruttaqwa
2005 - 2008 : SMA Pondok Pesantren Daaruttaqwa
2008 - 2012 : Program Sarjana (S-1) Sistem Informasi Universitas Gunadarma, Depok

» Non Formal

2003 : Kursus Komputer dan Internet Pondok Pesantren Daaruttaqwa
2007 : Pelatihan Dasar dan Kepemimpinan Santri
2007 : Kursus Instruktur Muda(pramuka)
2008-20011 : aktiv mengikuti berbagai seminar

Kemampuan
aktif berbicara bahasa inggris dan arab.
Kemampuan Komputer (C++,VB,MS Word, MS Excel, MS Power Point, MS Access, MS Outlook).
Kemampuan Internet.


Jakarta, 12 Januari 2008

FORMAT TTD
POSISI DITENGAH

Abas Nurrahman

contoh surat resmi untuk undangan turnamen(mata kuliah bahasa indonesia 2)

YAYASAN PESANTREN DAARUTTAQWA

Jakarta, 22 Oktober 2008
Nomor : 132/YP-UI/SMPN-613/XIII/2008
Lampiran : -
Perihal : Undangan Latihan


Kepada
Yth. Bapak/Ibu Orangtua/Wali
Siswa pondok pesantren daaruttaqwa
di Jakarta


Dengan hormat,

Dengan maksud melatih dan menambah pengalaman murid yang mengikuti Ekstrakurikuler Golf, kami menyampaikan kepada Bapak/Ibu Orangtua/Wali bahwa akan diadakan latihan tambahan menjelang Turnamen Pelajar pada:

1) Hari, tanggal : Jumat, 24 Oktober 2008
Waktu : Pukul 15.00 – 18.00 WIB
2) Hari, tanggal : Minggu, 26 Oktober 2008
Waktu : Pukul 19.00 – 21.00 WIB
3) Hari, tanggal : Jumat, 31 Oktober 2008
Waktu : Pukul 15.00 – 18.00 WIB

Tempatnya di Lapangan Golf Pondok Indah.

Sehubungan dengan hal tersebut, kami sangat senang apabila Bapak/Ibu dapat mengijinkan putra-putrinya pada latihan tersebut. Apabila ada hal-hal yang perlu ditanyakan, silahkan menghubungi guru pembimbing Ekstrakurikuler Golf yaitu bapak Abas Nurrahman S.komp pada nomor 08999787041.

Demikian undangan yang kami sampaikan, atas perhatian Bapak/Ibu, kami mengucapkan terima kasih.

Kepala sekolah ,
Wakil Bidang Kesiswaan



Abas Nurrahman S.komp

Jumat, 22 April 2011

Hierarchical approach

Hierarchical approach
The hierarchical approach, as pictured in figures 4.1 - 4.4 in the book, is used to analyze the individual steps in the analysis of goals involving intellectual or psychomotor skills. At this point you want to focus on one goal step at a time, starting with the first one. Look at each goal step and think about what skills and knowledge a learner must possess to be able to perform that step. Gagn� suggests beginning with the question, "What must the student already know so that, with a minimum amount of instruction, this task can be learned?" The answer will likely be one or more subordinate skills. These subordinate skills are what the learners will need to know to be able to perform that step. It may be best at first to write them down in bulleted or outline form, much like you did when you were first identifying your original goal steps.
After you have identified the initial subordinate skills for a step, you should then examine each of those subordinate skills and determine if there are any additional skills or knowledge that the learners must possess in order to learn those skills. This will result in the identification of additional subordinate skills. This process should continue until you reach the very basic level of performance, such as "identifying nouns and verbs". This does not mean that you will have to teach these skills to the learners. Eventually you will determine which of these skills should be classified as Entry Behaviors and not be taught. But for right now, you should include all the relevant subordinate skills. After you have finished analyzing your first goal step, continue on this way, analyzing each succeeding goal step to identify subordinate skills, and then analyzing those subordinate skills to identify more subordinate skills. In this way you will be building a hierarchy of skills that are required to attain each main goal step.
If you remember Gagn�'s five categories of learning from the last lesson, intellectual skills are skills that require the learner to perform some unique cognitive activity. Gagn� divides Intellectual Skills into the following subcategories, depending on the complexity of the mental processing involved. Here's a listing of those categories once again:
• Discrimination - The ability to distinguish one feature of an object from another based on one or more physical dimensions. Discrimination is a very low-level skill. It does not include the ability to name the class of objects; if the learners can do that, they have acquired a concept. Examples of discrimination include:
o Hearing a difference between two notes played on the piano.
o Distinguishing among different colors of socks in a drawer by pulling out a matched pair.
o Distinguishing between the symbols < and >.
• Concrete Concepts - Concrete concept learning involves learning to identify a stimulus as a member of a class having some characteristic in common. Examples of concrete concepts include:
o Identifying the middle of a group of objects.
o Arranging a group of different sized straws from largest to smallest.
o Marking all the squares on a paper showing circles, triangles, and squares.
• Defined Concepts - Concepts that cannot be identified by pointing them out and must be defined. Examples of defined concepts include:
o Family.
o Justice.
o Energy.
• Rules - Rules make it possible for us to do something, using symbols, and for us to respond to a class of things with a class of performances. Examples of rules include:
o Applying Ohm's law, E = I x R (not just stating it).
o Showing that force equals mass times acceleration.
o Creating a sentence such as, "The boy went to the store."
• Higher-order Rules - Involves applying complex combinations of simpler rules in order to solve problems, perform tasks, or explain, describe, and predict phenomena or events. Examples of higher-order rules include:
o Planning a balanced budget, given fixed income and fixed expenses.
o Planning a lesson plan, given certain class objectives, activities, time, and resource constraints.
This categorization of intellectual skills is a hierarchy, which means that each higher-level skill requires the lower skills as a prerequisite. Because of this, if you are trying to analyze a higher-order skill, the subordinate skills will likely be lower-order intellectual skills. After all, if you look at what higher-order rules are, you see that they are combinations of simpler rules. Since rules are made up of concepts and discriminations, your subordinate skills for a problem-solving activity could fall into any of these sub-categories.
In the process of determining your subordinate skills you may discover that some of the knowledge required to learn a particular goal step is not an intellectual skill but instead simply verbal information. In fact, with any goal you are likely to have subordinate skills that represent several of Gagn�'s domains of learning, even if your original goal falls only into one domain. If it is relevant to achieving a particular goal step then you should include it in your analysis.
When you think you have identified all of the relevant subordinate skills (subskills) for each goal step, you will want to add these to your instructional analysis diagram. Each subordinate skill should be represented by its own box, and should be connected to the goal step it supports. In addition, it should state the skill that the learner must be able to do at that step. Also, notice that the arrows on the lines connecting each subordinate skill box to the steps and skills above it points up from the subordinate skill towards the higher skills. In a hierarchical analysis, it is traditional to place superordinate skills above the skills upon which they are dependant in order for the reader to automatically recognize the implied learning relationship of the subskills. This means that the lower-order skills will end up at the bottom. When working with these skills, it may be useful to work your way up from the bottom, starting with very basic or foundational skills and then working your way up to the skills most closely connected to the goal step they support.
If your intellectual or psychomotor goal has subordinate skills that involve verbal information, you can still include it in your hierarchical flowchart, even though that verbal information is not part of the intellectual hierarchy. It is suggested that these skills be connected to the main hierarchical analysis using a connector like this:

Cluster analysis
If your goal falls in the domain of verbal information there will probably not be any specific sequence inherent in the information. In other words, it may not involve going from one step to the next. With verbal information you are not identifying a sequence of steps, but mainly you are just identifying the information that is needed to achieve your goal. In this case a cluster analysis is generally used. This involves identifying and grouping major categories of information that are implied by the goal, and then deciding how the information can be clustered together best.
Diagramming a cluster analysis can be achieved by using the hierarchical technique with the goal at the top and each major cluster as a subskill. Because your information is in clusters, and there is no explicit sequence, it is not considered a hierarchy.
Combination approach for attitudinal goals
As you learned in the last lesson, attitudinal goals also require a slightly different approach. It generally involves asking the following two questions:
1. What must learners do when exhibiting this attitude?
2. Why should they exhibit this attitude?
First you should identify the behavior that you will look for to determine if the attitude is being demonstrated. What would people be doing if they were demonstrating that they were following the desired attitude? This will most likely be an intellectual skill or a motor skill. From there you should determine the goal steps and the accompanying subordinate skills just like you do for any other intellectual or psychomotor goal. You will then end up with a hierarchical analysis of skills that represent what learners will be doing if they choose to exhibit the desired attitude.
The second part involves explaining to a learner "why" they should make the choice to exhibit that attitude. The answer to this usually involves verbal information. For an attitudinal goal, it's not enough that you teach a learner how to do it; they have to choose to do it, and this is the information that will assist them in making that choice. The verbal information can be arranged in its own separate cluster analysis, or integrated into the overall hierarchical analysis.
On an instructional analysis flowchart, attitudinal goals are represented by attaching the attitudinal box to the intellectual or psychomotor skill that learners will choose to demonstrate. This is done using an "A" connector. From there you then list the necessary steps and skills necessary to achieve the desired skill. For the supporting verbal information (the "why"), you can either provide a separate cluster analysis, or integrate it into the hierarchical analysis by attaching each verbal "skill" in a box beside the psychomotor or intellectual skill that it supports. This is done using the triangular "V" connectors described earlier.
At the bottom of page 67, Dick and Carey give an example of what a diagram of an attitudinal goal might look like.
The techniques described in the preceding sections should allow you to ascertain and arrange the subordinate skills for each category of goal. In the end, it is important to review your analysis several times to make sure you have properly identified all of the subordinate skills required for students to master your main instructional goal. Also, be on the lookout for skills that could be classified as "nice to know", but are not necessarily required for learners to learn the goal. It may be best to leave them out of the analysis.

it's my jurnal

kenapa gw buat tulisan ini?n kenapa tulisan ini berjudul it's my jurnal ..semua ini adalah tentang kehidupan gw yng lika liku..kadang kala gw taat dan kadangkala gw mennyimpang?

gw tau kalo hidup itu singkat.semua hanya berbeda berap lama kita hidup di dunia ini.ada yang lama ataupun sebentar.tapi akan berarti lagi kalo hidup kita bermakna,dan kelak nanti ketika kita meninggal dunia semua menangis akan kepergian kita?menjadi otang yang bermamfaat untuk orang laon itu tidak mudah semudah kita membalikkan kedua tangan kita.tapin anything is possible?

kita dilahirkan bagaikan seputih kertas kosong yang belum dicoret atau di ukir dengan tinta apapun?mau diapakan kah kertas putih ini?akankah kita coret dengan tinta yang kotor?atau dengan tinta yang penuh warna dengan kehidupan?atau dengan tinta emas yang begitu mengkilau?
kitalah yang menentukkan itu semua?desai proposal hehidupan ada ditangan kita?dan yang maha kuasa lah yang akan menentukkan segalanya?

kehidupan kita,kitalah yang ukir?