Kamis, 31 Maret 2011

Mutiah, wanita pertama penghuni surga

Suatu ketika, Fatimah Ra bertanya kepada Rasulullah SAW Siapakah perempuan yang kelak pertama kali masuk surga? Rasulullah SAW menjawab; dialah seorang wanita yang bernama Mutiah.

Fatimah Ra terkejut. ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rasulullah SAW sendiri? maka timbullah keinginan Farimah Ra untuk mengetahui siapakah gerangan perempuan itu? Dan apakah yang telah diperbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi?

Setelah minta izin kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib Ra, Fatimah Ra berangkat mencari rumah krdiaman Mutiah. Putranya yang masih kecil bernama Hasan diajak ikut serta.


Ketika tiba di rumah Mutiah, Fatimah Ra mengetuk pintu seraya memberi salam

"Assalamualaikum....!"

"Wa Alaikumsalam!Siapa diluar?" terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah. Suaranya cerah & merdu.

"Saya Fatimah, putri Rasulullah," sahut Fatimah Ra kembali.

"Alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini Fatimah, putri Rasulullah, sudi berkunjung ke gubug saya," terdengar kembali jawaban dari dalam. Suara itu terdengar ceria semakin mendekat ke pintu.

"Sendirian, Fatimah," tanya seorang perempuan sebaya dengan Fatimah, yaitu Mutiah seraya membukakan pintu.

"Aku ditemani Hasan." jawab Fatimah Ra.

"Aduh, maaf ya," kata Mutiah, suaranya terdengar menyesal. "Saya belum sempat mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki2."

"Tapi Hasan kan masih kecil?" jelas Fatimah Ra.

"Meskipun kecil, Hasan adalah seorang laki2. Besok saja anda datang lagi, ya? Saya akan minta izin dulu kepada suami saya," kata Mutiah dengan menyesal.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Fatimah Ra pamit & kembali pulang.

Besoknya, Fatimah Ra datang kembali ke rumah Mutiah, kali ini ia ditemani oleh Hasan & Husain. Bertiga mereka mendatangi rumah Mutiah. Setelah memberi salam & dijawab gembira, masih dari dalam rumah Mutiah bertanya,

"Kau masih ditemani oleh Hasan, Fatimah? Suami saya telah memberi izin."

"Ya, juga ditemani oleh Husain," jawab Fatimah.

" Ha? Kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin cuma Hasan, & Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerimanya juga," dengan perasaan menyesal, Mutiah kali ini juga menolak.

Hari itu Fatimah gagal lagi untuk bertemu dengan Mutiah.

Dan keesokan harinya Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu di rumahnya.

Keadaan rumah Mutiah sangat sederhana, tak ada satupun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun, semuanya teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasar juga terlihat bersih, alasnya yang putih, & baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harum & segar, membuat orang betah tinggal di dalamnya.

Fatimah sangat kagum melihat suasana yang menyenangkan itu, sehingga Hasan & Husain yang biasanya tak begitu betah berada di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain-main.

"Maaf ya, saya tak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab saya harus menyiapkan makan buat suami saya," kata Mutiah sambil mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu.

Mendekati tengah hari, masakan itu sudah siap semuanya, kemudian diletakkan di atas nampan. Mutiah mengambil cambuk, yang juga diletakkan di atas nampan.

"Suamimu bekerja dimana?" tanya Fatimah.

"Di ladang," jawab Mutiah.

"Pengembala?" tanya Fatimah lagi.

"Bukan, bercocok tanam."

"Tapi mengapa kau bawakan cambuk?"

"Oh itu?" sahut Mutiah dengan tersenyum. "cambuk itu aku sediakan untuk keperluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah masakan saya cocok atau tidak? Kalau dia bilang cocok, maka tidak akan terjadi apa2. Tetapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami & menyenangkan hatinya."

"Apakah itu kehendak suamimu?" tanya Fatimah keheranan.

"Oh, bukan! suami saya adalah seorang yang penuh kasih sayang. Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami."

Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia meminta diri, pamit pulang.

"Pantas kalau Mutiah kelak menjadi seorang perempuan yang pertama kali masuk surga," kata Fatimah dalam hati, ditengah perjalanannya pulang, "dia sangat berbakti kepada suami dengan tulus. Perilaku kesetiaan macam ini bukanlah lambang perbudakan wanita oleh kaum laki2. Tapi, merupakan cermin bagi citra ketulusan & pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan perilaku yang sama.

2 komentar: